KONSEP DASAR MASA NEONATUS BAYI,
BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAH

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK I
1.
ANGGI PRATIWI
2.
BETSI YENI ALEP
3.
FITRIAHADI B
4.
HUZAEMA
5.
NOFRIANA
6.
NURMAWATI
7.
NURHANDAYANI
8.
MUNIRA
9.
SARKIA
10.
SYARIPA HARDIANTI
11.
VINI SEPTIANI
12.
WINDA APRILIA L
13.
WIWIN AGUSTIN
YAYASAN
PENDIDIKAN CENDRAWASIH
AKADEMI
KEBIDANAN PALU
2016/2017
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis
panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNyalah penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KONSEP DASAR MASA NEONATUS BAYI, BALITA
DAN ANAK PRA SEKOLAH” tepat pada waktunya.
Makalah ini penulis susun untuk melengkapi
tugas Pendidikan D3 KEBIDANAN, selain itu untuk mengetahui dan memahami KONSEP
DASAR MASA NEONATUS BAYI, BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAH.
Penulis mengucapkan terima kasih
pada pihak-pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap pihakdiharapkan dapat memberikan
masukan berupa kritik dan saran yang bersifat membangun.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang............................................................................................ 1
B.
Rumusan masalah....................................................................................... 1
C.
Tujuan ........................................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pencegahan infeksi..................................................................................... 3
B.
Rawat gabung............................................................................................. 6
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................ 16
B. Saran .......................................................................................................... 16
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembuatan makalah ini didasarkan pada banyaknya
kekeliruan pada penanganan bayi terhadap infeksi dan imunisasi Pada daerah
risiko tinggi infeksi TBC, Imunisasi BCG harus segera di berikan pada bayi
segera setelah bayi lahir, pemberian dosis pertama tetesan polio dianjurkan
pada umur 2 minggu. Rawat gabungan merupakan perawatan bayi dan ibu dalam suatu
unit. Dalam pelaksanaanya, bayi harus selalu berada di samping ibu sejak segera
setelah dilahirkan sampai pulang di bantu secara emosional, pengguanaan air
susu ibu (ASI), pencagahan infeksi, pendidikan kesehatan. Manfaat rawat
gabungan Setelah menunggu selama 9 bulan dan setelah lelah dalam proses
persalinan si ibu akan sangat senang bahagia bila dekat dengan bayi sangat
penting untuk saling mengenal terutama pada hari-hari pertama setelah
persalinan. Bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan
dan kasih sayang ibu. Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan frekuensi
yang lebih sering dan menimbulkan reflek prolaktin yang memacu prose produksi ASI
dan reflek oksitosin yang membantu pengeluaran ASI mempercepatinvolusi rahim.
pemberian ASI dapat dilakukan sedini mungkin sehingga anggaran penggeluaran
untuk membeli susu formula dan peralatan untuk membuatnya dapat dihemat. Ruang
bayi tidak perlu ada dan ruang dapat digunakan untuk hal yang lain. Lama rawat
juga bisa dikurangi sehingga pergantian pasien bisa lebih cepat.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana cara yang benar untuk pencegahan infeksi
terhadap neonatus, bayi, balita, dan prasekolah ?
2.
Mengapa pencegahan infeksi terhadap neonatus, bayi,
balita, dan anak prasekolah perlu dilakukan ?
3.
Mengapa rawat gabung perlu dilakukan ?
C. Tujuan Penulisan
1)
Untuk mengetahui cara yang baik dan benar untuk
mencegah infeksi pada neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah.
2)
Untuk mengetahui pencegahan infeksi terhadap
neonatusaaaaaa, bayia, balita dan anak prasekolah.
3)
Untuk mengetahui pentingnya rawat gabungan, dan cara
penatalaksanaan dalam melakukan rawat gabung
BAB II
PEMBAHASAN
Konsep Dasar
Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah
A. Pencegahan
Infeksi
Pencegahan Infeksi merupakan penatalaksanaan awal yang
harus dilakukan pada bayi baru lahir karena bayi baru lahir sangat rentan
terhadap infeksi. Pada saat penanganan bayi baru lahir, pastikan penolong untuk
melakukan tindakan pencegahan infeksi.
1)
Tindakan-Tindakan Pencegahan Infeksi
Tindakan-tindakan pencegahan infeksi bayi baru lahir
sebagai berikut
a.
Mencuci tangan secara seksama sebelum dan sesudah
melakukan kontak dengan bayi
b.
Memakai sarung tangan bersih saat melayani bayi yang
belum dimandikan
c.
Memastikan semua peralatan telah disterilkan
d.
Memastikan semua perlenkapan bayi dalam keadaan bersih
e.
Memastikan semua alat-alat yang bersentuhan dengan
bayi dalam keadaan bersih
f.
Menganjurkan ibu menjaga kebersihan diri, terutama
payudara
g.
Membersihkan muka, pantat,dan tali pusat bayi dengan
air bersih hangat dan sabun setiap hari
h.
Menjaga bayi dari orang-orang yang menderita infeksi.
2.
Prinsip Dasar Pencegahan Infeksi
Prinsip
dasar dalam pencegahan infeksi adalah sebagai berikut.
a.
Setiap orang (pasien dan petugas pelayanan kesehatan)
harus dianggap berpotensi menularkan infeksi.
b.
Cuci tangan adalah prosedur yang paling praktis dalam
mencegah kontaminasi silang.
c.
Pakailah sarung tangan sebelum menyentuh setiap kulit
yang luka, selaput lendir (mukosa), darah, dan cairan tubuh lainnya (sekret
atau ekskret).
d.
Gunakanlah pelindung (barier) seperti kacamata
(goggles), masker, celemek(apron) pada setiap kali melakukan kegiatan pelayanan
yang diantisipasi dapat terkena percikan atau terkena darah dan cairan tubuh
pasien.
e.
Selalu melakukan tindakan/prosedur menurut langkah
yang aman, seperti tidak memebengkokan jarum dengan tangan, memegang alat medik
dan memprosesnya dengan benar, membuang dan memproses sampah medik dengan
benar.
i.
Cuci Tangan
a)
Seluruh permukaan kedua tangan dicuci dengan sabun
selama 15-30 detik dan dicuci dengan air mengalir.
b)
Cuci Tangan : sebelum dan sesudah melakukan pemeiksaan
atau setelah setiap kontak langsung. Setelah menyentuh darah atau cairan tubuh
pasien walaupun telah memakai sarung tangan Setelah melepaskan sarung tangan, karena ada
kemungkinan kebocoran disarung tangan
c)
Selalu mencuci tangan sebelum melakukan tindakan
bedah.
d)
Untuk membudidayakan kebiasaan cuci tangan,pengelola
perlu berusahan menyediakan sabun dan air bersih secara terus menerus, dapat
dari keran atau ember, serta penggunaan handuk sekali pakai. Untuk setiap
petugas digunakan satu handuk /lap bersih dan kering untuk mengeringkan tangan.
ii.
Sarung Tangan
a)
Pemakaian sarung tangan :
·
Apabila melakukan tindakan klinik
·
Apabila memegang alat medik dan sarung tangan
·
Apabila membuang sampah medik (kapas, kasa dan
lain-lain).
b)
Untuk setiap pasien harus digunakan sarung tangan yang
berbeda guna mencegah kontaminasi silang.
c)
Apabila sarung tangan bekas pakai akan digunakan lagi
:
·
Didekontaminasi dengan merendam dalam larutan klorin
0,5 % selama 10 menit, kemudian dicuci.
·
Selanjutnya sarung tangan disterilisasi dengan otoklaf
(alat sterilisasi) atai didisenfeksi tingkat tinggi dengan menguapkan atau
merebus.
d)
Baju pelindung (gaun) yang bersih, tetapi tidak perlu
steril, digunakan selama melakukan semua prosedur persalinan:
·
Pada pemakaian baju bedah berlengan panjang, tepi
sarung tangan harus menutupi ujung lengan baju untuk menghindari kontaminasi.
·
Pastikan bahwa tangan yang telah memakai sarung tangan
(yang telah didisinfeksi tingkat tinggi atau steril) diletakkan lebih tinggi
dari pinggang dan tidak bersentuhan dengan baju pelindung. (2)
3.
Upaya Pencegahan Infeksi
Upaya lain untuk mencegah infeksi sebagai berikut :
a.
Pencegahan infeksi pada tali pusat,
Upaya dilakukan dengan cara merawat
tali pusat agar luka tersebut tetap bersih. Dilarang membubuhkan atau
mengoleskan ramuan, abu dapur, dan sebagainya pada luka tali pusat sebab akan
menyebabkan infeksi, tetanus, dan kematian. Tanda infeksi tali pusat yang harus
di waspadai antara lain : kulit disekitar tali pusat berwarna kemerahan, ada
pus/nanah dan berbau busuk.
b.
Pencegahan infeksi pada kulit,
Beberapa cara yang diketahui dapat
mencegah terjadinya infeksi pada kulit bayi baru lahir adalah meletakkan bayi
di dada ibu, agar terjadi kontak kulit langsung antara ibu dan bayi, sehingga
menyebabkan terjadinya kolonisasi mikroorganisme ibu yang cenderung bersifat patogen,
serta adanya zat antibodi bayi yang sudah terbentuk dan terkandung dalam ASI.
c.
Pencegahan infeksi pada mata bayi baru lahir,
Cara mencegah infeksi pada mata bayi
baru lahir adalah dengan memberikan salep mata atau obat tetes mata dalam waktu
1 jam setelah bayi lahir untuk mencegah oftalmia neonatorium, biarkan obat pada
mata bayi dan obat yang ada disekitarnya jangan dibersihkan, keterlambatan
memberikan salep mata pada bayi baru lahir merpakan seringnya kegagalan upaya
pencegahan infeksi pada mata.
d.
Imunisasi
Pada daerah risiko tinggi infeksi
TBC , Imunisasi BCG harus segera di berikan pada bayi segera setelah bayi
lahir, pemberian dosis pertama tetesan polio dianjurkan pada umur 2 minggu,
maksud pemberian imunisasi polio secara dini adalah untuk meningkatkan
perlindungan awal, imunisasi hepatitis B sudah merupakan program nasional
meskipun pemberiannya secara bertahap. (1)
B. Rawat Gabung
Rawat gabung ( rooming – in ) ialah suatu sistem
perawatan di mana bayi serta ibu dirawat dalam satu unit.
Dalam pelaksanaanya, bayi harus selalu berada di
samping ibu sejak segera setelah dilahirkan sampai pulang. Ini bukan suatu hal
yang baru. Di lingkungan rumah sakit dan rumah bersalin, sistem perawatan dalam
satu ruangan ( rawat gabung ) difungsikan kembali.
Istilah rawat gabung parsial yang dulu banyak dianut,
yaitu rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang
hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat di kamar bayi, sekarang tidak
dibenarkan dan tidak dipakai lagi. Rawat gabung merupakan lanjutan dari early
ambulation dimana memungkinan ibu memelihara anaknya.
Untuk persalinan di rumah sakit terdapat modifikasi
dalam praktik bahwa pada saat kunjungan bayi ditempatkan dalam suatu station
bayi agar tidak ada kontaminasi dengan pengunjung. Station bayi dibuat dengan
dinding kaca agar pengunjung dapat melihat bayi.
1.
Tujuan Rawat Gabung
Ada beberapa
tujuan dari rawat gabung antara lain sebagai berikut :
1)
Bantuan emosional
Setelah menunggu selama 9 bulan dan setelah lelah
dalam proses persalinan si ibu akan sangat senang bahagia bila dekat dengan
bayi. Si ibu dapat membelai-belai si bayi, mendengar tangis bayi, mencium-cium
dan memperhatikan bayinya yang tidur disampingnya. Hubungan kedua makhluk ini,
sangat penting untuk saling mengenal terutama pada hari-hari pertama setelah
persalinan. Bayi akan memperoleh kehangatan tubuh ibu, suara ibu, kelembutan
dan kasih sayang ibu (bonding effect).
2)
Penggunaan Air Susu IBu (ASI)
ASI adalah makanan bayi yang terbaik. Produksi ASI
akan lebih cepat dan lebih banyak bila dirangsang sedini mungkin dengan cara
menetekkan sejak bayi lahir hingga selama mungkin. Pada hari – hari pertama,
yang keluar adalah kolostrum yang jumlahnya sedikit. Tidak perlu khawatir bahwa
bayi akan kurang minum, karena bayi harus kehilangan cairan pada hari – hari
pertama dan absorpsi usus juga sangat terbatas.
3)
Pencegahan infeksi
Pada tempat perawatan bayi di mana banyak bayi
disatukan, infeksi silang sulit dihindari. Dengan rawat gabung, lebih mudah
mencegah infeksi silang. Bayi yang melekat pada kulit si ibu akan memperoleh
transfer antibodi dari si ibu. Kolostrum yang mengandung antibodi dalam jumlah
tinggi, akan melapisi seluruh permukaan kulit dan saluran pencernaan bayi, dan
diserap oleh bayi sehingga bayi akan mempunyai kekebalan yang tinggi. Kekebalan
ini akan mencegah infeksi, terutama pada diare.
4)
Pendidikan kesehatan
Kesempatan melaksanakan rawat gabung dapat
dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu, terutama
primipara. Bagaimana teknik menyusui, memandikan bayi,merawat tali pusat,
perawatan payudara dan nasihat makanan yang baik, merupakan bahan – bahan yang
diperlukan si ibu. Keinginan ibu untuk bangun dari tempat tidur, menggendong
bayi dan merawat sendiri akan mempercepat mobilisasi, sehingga si ibu akan
lebih cepat pulih dari persalinan.
2.
Manfaat Rawat Gabung.
Manfaat dan
keuntungan rawat gabung ditinjau dari berbagai aspek dan sesuai tujuanya adalah
sebagai berikut :
1)
Aspek Psikologis
Dengan rawat gabung, antara ibu dan bayi akan terjalin
proses lekat ( bonding ). Rasa aman, kasih sayang, dan percaya pada orang lain
(basic trust ) merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri pada bayi. Hal
ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya.
2)
Aspek Fisiologis
Dengan rawat gabung, bayi dapat disusui dengan
frekuensi yang lebih sering dan menimbulkan reflek prolaktin yang memacu prose
produksi ASI dan reflek oksitosin yang membantu pengeluaran ASI
mempercepatinvolusi rahim. Pemberian ASI ekslusif dapat juga dipergunakan sebagai
metode Keluarga Berencana, asal memenuhi syarat yaitu usia bayi belum berusia 6
bulan, ibu belum haid lagi, dan bayi masih diberikan ASI secara eksklusif.
3)
Aspek Fisik
Dengan rawat
gabung, ibu dengan mudah menyusui kapan saja bayi menginginkannya. Dengan demikian,
ASI cepat keluar karena dapat rangsangan dari isapan bayi.
4)
Aspek Ekonomi
Dengan rawat gabung, pemberian ASI
dapat dilakukan sedini mungkin sehingga anggaran penggeluaran untuk membeli
susu formula dan peralatan untuk membuatnya dapat dihemat. Ruang bayi tidak
perlu ada dan ruang dapat digunakan untuk hal yang lain. Lama rawat juga bisa
dikurangi sehingga pergantian pasien bisa lebih cepat.
5)
Aspek Edukatif
Dengan rawat gabung ibu, terutama
yang primipara, akan mempunyai pengalaman menyusui dan merawat bayinya. Ibu
juga segera dapat mengenali perubahan fisik atau perilaku bayi dan menanyakan
pada petugas hal-hal yang di anggap tidak wajar. Sarana ini dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi keluarga.
6)
Aspek Medis
Dengan rawat gabung, ibu merawat
bayinya sendiri. Bayi juga tidak terpapar dengan banyak petugas sehingga
infeksi nosokomial dapat dicegah. Di samping itu, kolostrum yang banyak
mengandung berbagai zat protektif akan cepat keluar dan memberikan daya tahan
bagi bayi
3.
Pelaksanaan Rawat Gabung
Sebagai
pedoman penatalaksanaan rawat gabung telah disusun tata kerja sebagai berikut :
1)
Di Poliklinik Kebidanan
a.
Memberikan penyuluhan mengenai kebaikan ASI dan rawat
gabung.
b.
Memberikan penyuluhan mengenai perawatan payudara,
makanan ibu hamil, nifas, perawatan bayi, dan lain – lain.
c.
Mendemonstrasikan pemutaran film, slide mengenai cara
– cara merawat payudara, memandikan bayi, merawat tali pusat, Keluarga
Berencana, dan sebagainya.
d.
Mengadakan ceramah, tanya jawab dan motivasi Keluarga
Berencana.
e.
Menyelenggarakan senam hamil dan nifas.
f.
Membantu ibu – ibu yang mempunyai masalah – masalah
dalam hal kesehatan ibu dan anak sesuai dengan kemampuan.
g.
Membuat laporan bulanan mengenai jumlah pengunjung,
aktivitas, hambatan dan lain – lain.
2)
Di Kamar Bersalin
a.
Bayi yang memenuhi syarat perawatan bergabug dilakukan
perawatan bayi baru lahir seperti biasa.
b.
Kriteria yang diambil sebagai syarat untuk dirawat
bersama ibunya adalah:
i.
Nilai APGAR lebih dari 7.
ii.
Berat badan lebih dari 2500 gr, kurang dari 4000 gr.
iii.
Kehamilan lebih
dari 36 minggu, kurang dari 42 minggu.
iv.
Lahir spontan,
presentasi kepala.
v.
Tanpa infeksi
intrapartum .
vi.
Ibu sehat.
c.
Dalam jam
pertama setelah lahir, bayi segera disusukan kepada ibunya untuk meragsang
pengeluaran ASI.
d.
Memberikan
penyuluhan mengenai ASI dan perawatan bergabung terutama bagi yang belum
mendapat penyuluhan di poliklinik.
e.
Mengisi status
P3-ASI secara lengkap dan benar.
f.
Catat pada
lembaran pengawasan, jam berapa bayi baru lahir dan jam berapa bayi disusukan
kepada ibunya.
g.
Persiapan agar
bayi dan ibunya dapat bersama – sama ke ruangan.
3)
Di Ruangan Perawatan.
a.
Bayi diletakkan di dalam tempat tidur bayi yang
ditempatkan di samping tempat tidur ibu.
b.
Waktu berkunjung bayi dan tempat tidurnya dipindahkan
ke ruangan lain.
c.
Perawat harus memperhatikan keadaan umum bayi dan
dapat dikenali keadaan – keadaan yang tidak normal serta kemudian melaporkan
kepada dokter jaga.
d.
Bayi boleh menyusu sewaktu bayi menginginkan.
e.
Bayi tidak
boleh diberi susu dari botol.
f.
Bila ASI masih
kurang, boleh ditambahkan air putih atau susu foemula dengan sendok.
g.
Ibu harus
dibantu untuk dapat menyusui bayinya dengan baik, juga untuk merawat
payudaranya.
h.
Keadaan bayi
sehari – hari dicatat dalam status P3 – ASI.
i.
Bila bayi sakit
atau perlu diobservasi lebih teliti, bayi dipindahkan ke ruang perawatan bayi
baru lahir.
j.
Bila ibu dan
bayi boleh pulang, sekali lagi diberi penerangan tentang cara – cara merawat
bayi dan pemberian ASI serta perawatan payudara dan makanan ibu menyusui.
k.
Kepada ibu
diberikan leaflet mengenai hal tersebut dan dipesan untuk memeriksakan
bayinya 2 minggu kemudian.
l.
Status P3 – ASI
setelah dilengkapi, dikembalikan ke ruangan follow – up.
4)
Di Ruang FOLLOW - UP
a.
Pemeriksaan di ruang follow – up meliputi pemeriksaan
bayi dan keadaan ASI.
b.
Aktivitas di ruang follow – up meliputi :
i.
Menimbang berat bayi.
ii.
Anamnesis
makanan bayi dan keluhan yang timbul.
iii.
Mengecek
keadaan ASI.
iv.
Memberi nasihat
mengeni makanan bayi, cara menyusukan bayi dan makanan ibu yang menyusukan.
v.
Memberikan
peraturan makanan bayi.
vi.
Pemeriksaan
bayi oleh dokter anak.
vii.
Pemberian
imunisasi menurut instruksi dokter.
4.
Syarat-Syarat Rawat Gabung
Pada
prinsipnya syarat rawat gabung adalah dimana ibu mampu menyusui dan bayi mampu
untuk menyusu. Kemampuan ibu untuk menyusui dimulai dengan keinginan atau
kesediaan yang berupa motivasi ibu sendiri untuk menyusui. Di sinilah
pentingnya motivasi diberikan sejak awal kehamilan. Keadaan ibu yang sehat
selalu memungkinkan ibu untuk menyusui.
Dari pihak
si bayi kemampuan menyusui dinilai dari fungsi kardiorespiratorik,
reflek menghisap dan fungsi neurologik yang baik. Penolong persalinan harus
cukup terlatih untuk menilai apakah ibu dan bayi mampu menyusui segera setalah
proses persalinan. Apabila ibu dan bayi baik, secepat bayi diberikan kepada ibu
dan mulai menyusui. Apabila diperlukan observasi hal ini tentu dapat dilakukan
dan setelah ibu dan bayi sudah mejadi lebih baik keadaan umumnya harus segera
digabung dan mulai menyusui.
5.
Kontra Indikasi Rawat Gabung
1.
Pihak Ibu
a.
Fungsi kardiorspiratorik yang tidak baik.
Pasien penyakit
jantung kelas II dianjurkan untuk sementara tidak menyusui sampai keadaan
jantung cukup baik. Bagi pasien jantung klasifikasi III tidak dibenarkan
menyusui. Penilaian akan hal ini harus dilakukan dengan hati-hati.
b.
Eklamsi dan
Preeklamsi berat.
Keadaan ibu
biasanya tidak baik dan pengaruh obat-obatan untuk mengatasi penyakit biasanya
menyebabkan kesadaran menurun sehingga sementara ibu belum sadar betul. Tidak
diperbolehkan ASI dipompa dan diberikan pada bayi.
c.
Penyakit
infeksi akut dan aktif.
Bahaya
penularan pada bayi yang dikhawatirkan. Tuberkolosis paru yang aktif dan
terbuka merupakan kontra indikasi mutlak . Pada sepsis keadaan ibu biasanya
buruk dan tidak akan mampu menyusui. Banyak perdebatan mengenai penyakit
infeksi apakah dibenarkan menyusui atau tidak
d.
Karsinoma
payudara.
Pasien dengan
karsinoma payudara harus dicegah jangan sampai ASInya keluar karena mempersulit
penilaian penyakitnya. Apabila menyusui ditakutkan adanya sel-sel karsinoma
yang terminum si bayi.
e.
Psikosis.
Tidak dapat
dikontrol keadaan jiwa si ibu bila mendeerita psikosis. Meskipun pada dasarnya
ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada kemungkinan penderita psikosis
membuat cedera pada bayi.
2.
Pihak Bayi
a.
Bayi kejang.
Kejang-kejang
pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak memungkinkan untuk
menyusui. Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul saat bayi menyusui. Keadaan
bayi yang menurun juga tidak memungkinkan bayi untuk menyusui.
b.
Bayi yang sakit
berat bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau peyakit lain yang
memerlukan perawatan intensif tentu tidak meyusu dan dirawat gabung.
c.
Bayi yang
memerlukan observasi atau terapi khusus.
Selama
observasi rawat gabung tidak dapat dilaksanakan. Setelah keadaan membaik tentu
dapat dirawat gabung. Ini yang disebut rawat gabung tidak langsung.
d.
Very Low Brith Weight (Berat Badan Lahir Sangat
Rendah).
Refleks menghisap dan refleks lain pada BBLSR belum
baik sehingga tidak mungkin menyusu dan di rawat gabung.
e.
Cacat bawaan.
Diperlukan persiapan mental ibu untuk menerima keadaan
bayinya yang cacat. Cacat bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan kontra
indikasi mutlak. Cacat ringan seperti labiaskizis, palatoskizis bahkan
labiognatopalatoskizis masih memungkinkan utuk meyusui.
f.
Kelainan metabolik di mana bayi tidak dapat menerima
ASI.
6.
Kesulitan Rawat Gabung
1.
Kasus tidak terdaftar belum memperoleh penyuluhan
sehingga masih takut menerima rawat gabung.
2.
Kekurangan tenaga pelaksana untuk penyuluhan dan
pendidikan kesehatan untuk mencapai tujuan yang maksimal.
3.
Secara terpaksa masih digunakan susu formula untuk
keadaan-keadaan dimana ASI sangat sedikit, yaitu ibu yang mengalami tindakan
operatif dan belum pulih kesadarannya. (3)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pencegahan
infeksi pada asuhan neonatal, bayi, balita, dan anak prasekolah untuk
meminimalkan risiko penyebaran penyakit yang berbahaya seperti hepatitis B dll.
Rawat gabung ialah suatu sistem perawatan di mana bayi serta ibu dirawat dalam
satu unit. Bayi harus selalu berada di samping ibu sejak segera setelah
dilahirkan sampai pulang. Di lingkungan rumah sakit dan rumah bersalin, sistem
perawatan dalam satu ruangan ( rawat gabung ) difungsikan kembali.
B.
Saran
Mungkin hanya ini yang bisa penulis sampaikan dalam makalah yang singkat
ini, pasti dalam penyampaian dan penulisan makalah ini banyak sekali
kesalahan-kesalahan, semua itu tidak lain karena keterbatasan penulis, untuk
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran serta mohon ralat yang
bersifat membangun demi bertambahnya pengetahuan bagi penulis sendiri dan
umumnya kepada kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
kesehatan.kompasiana.com/.../konsep-asuhan-neonatus-bayi-dan-anak-b.
Asuhan Bayi Baru Lahir. Jakarta:
Pusdiknakes-WHO-JHPIEGO, 2001
suratbidanku.blogspot.com/2009/12/rawat-gabung-rooming-in.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar