SARAF
NEOROLOGI DAN ORGAN SENSORI
DI SUSUN
OLEH:
FITRI
KALIMATUS SADIYAH
LAURA
RANTELAEN
SITTI
KHADIJA
SYARIPA
HARDIANTI
YAYASAN
PENDIDIKAN CENDRAWASIH
AKADEMI
KEBIDANAN PALU
TAHUN
AKADEMIK 2016/2017
A. Pengertian
Sistem syaraf adalah sebuah sistem organ yang
mengandung jaringan sel-sel khusus yang disebut neuron yang mengkoordinasikan
tindakan manusia dan mengirimkan sinyal antara berbagai bagian tubuhnya. Sistem
saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sistem saraf perifer
terdiri dari neuron sensorik, kelompok neuron yang disebut ganglia, dan saraf
menghubungkan mereka satu sama lain dan sistem saraf pusat. Daerah ini semua
saling berhubungan melalui jalur saraf yang kompleks. Di sistem saraf enterik,
suatu subsistem dari sistem saraf perifer, memiliki kapasitas, bahkan ketika
dipisahkan dari sisa dari sistem saraf melalui sambungan primer oleh saraf
vagus, untuk berfungsi dengan mandiri dalam mengendalikan sistem
gastrointestinal.
Sistem saraf
merupakan sistem koordinasi (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul saraf
ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi
anggapan rangsangan. Unit terkecil pelaksanaan kerja sistem saraf adalah sel
saraf atau neuron. Neuron mengirimkan sinyal ke sel lain sebagai
gelombang elektrokimia perjalanan sepanjang serat tipis yang disebut akson,
yang menyebabkan zat kimia yang disebut neurotransmitter yang akan dirilis di
persimpangan yang disebut sinapsis. Sebuah sel yang menerima sinyal sinaptik
mungkin bersemangat, terhambat, atau sebaliknya dimodulasi. Sensory neuron
diaktifkan oleh rangsangan fisik menimpa mereka, dan mengirim sinyal yang
menginformasikan sistem saraf pusat negara bagian tubuh dan lingkungan
eksternal. Motor neuron, terletak baik dalam sistem saraf pusat atau di perifer
ganglia, menghubungkan sistem saraf otot atau organ-organ efektor lain. Sentral
neuron, yang pada vertebrata sangat lebih banyak daripada jenis lain, membuat
semua input dan output mereka koneksi dengan neuron lain. Interaksi dari semua
jenis bentuk neuron sirkuit neural yang menghasilkan suatu organisme persepsi
dari dunia dan menentukan perilaku. Seiring dengan neuron, sistem saraf
mengandung sel-sel khusus lainnya yang disebut sel-sel glial (atau hanya glia),
yang menyediakan dukungan struktural dan metabolik.
Sistem saraf didefinisikan oleh kehadiran tipe khusus
dari sel-neuron (terkadang disebut “neuron” atau “sel saraf”). Neuron dapat
dibedakan dari sel-sel lain dalam beberapa cara, tetapi mereka yang paling
mendasar properti adalah bahwa mereka berkomunikasi dengan sel lainnya melalui
sinapsis, yang membran-ke-membran yang mengandung molekul Persimpangan mesin
yang memungkinkan sinyal transmisi cepat, baik listrik atau kimia. Banyak jenis
memiliki sebuah akson neuron, suatu yg bersifat protoplasma tonjolan yang dapat
memperluas untuk jauh bagian tubuh dan membuat ribuan kontak sinaptik. Akson
sering bepergian melalui tubuh dalam kumpulan yang disebut saraf.
Sensori adalah stimulus atau
rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke
dalam tubuh melalui organ sensori (pancaindera)
B. Perkembangan Saraf Janin Intra
Uterus pada NEURULASI
Trimester I
(0 – 12 minggu)
1. Pada minggu ke-8, serabut-serabut
saraf tersebar ke seluruh tubuh.
2. Pada usia 10 minggu, rangsangan
lokal dapat memicu gerakan berkedip, gerakan membuka mulut, penutupan jari
tangan yang tidak sempurna, dan fleksi plantar jari kaki.
3. Minggu ke-11 atau ke-12, janin
membuat gerakan nafas, menggerakkan seluruh anggota geraknya dan mengubah
posisi di dalam rahim.
4. Janin dapat menghisap ibu jarinya
dan berenang dalam kolam cairan amnion, bersalto dan mungkin membuat simpul
pada korda umbilikalis.
5. Janin berespons terhadap kebisingan,
sinar yang kuat, stimulasi yang mengganggu pada kulit, dan penurunan suhu
dengan mengubah respons otonom, misalnya kecepatan denyut jantung dan dengan
bergerak.
Trimester II (12 – 28 minggu)
1. Gerakan janin dapat dirasakan sejak
usia gestasi 14 minggu; “latihan fisik” diperkirakan membantu pertumbuhan otot
dan ekstremitas.
2. Pada minggu ke-16, sistem saraf
janin mulai berfungsi. Stimulasi dari otak sudah di respons oleh otot-otot
sehingga janin bisa mengoordinasikan gerakannya.
3. Janin makin aktif bergerak. Dia
menendang-nendang bahkan melakukan aksi berputar dalam rahim ibu. Apabila
gerakan cukup kuat untuk di rasakan ibu sebagai gerakan bayi maka terjadilah
quickening. Untuk nulipara, perasaan ini biasanya di alami setelah minggu ke-16
gestasi. Pada multipara, quickening dapat dirasakan lebih awal. Pada waktu itu,
ibu menjadi sadar akan siklus tidur dan bangun janin.
Trimester III (28 – 36 minggu)
1. Perkembangan pesat dalam tubuh janin
pada awal bulan ke-7 terjadi pada sistem saraf pusatnya, terutama pada otaknya.
Bagian otak yang mengalami perkembangan paling pesat adalah otak yang mengelola
proses penyampaian informasi kepada organ pendengaran serta organ penglihatan.
Perkembangan ini memungkinkan si kecil mampu mengenali dan membedakan antara
suara sang ibu dan anggota keluarga lainnya, meskipun suara yang didengar belum
sejernih suara aslinya. Kelopak matanya juga telah dapat membuka dan menutup.
2. Bola matanya telah dapat digunakan
untuk melihat. Bila si ibu berdiri di tempat yang cukup terang, si kecil dapat
melihat siluet benda-benda di sekitar ibunya.
3. Memasuki bulan ke-9, proses yang
terjadi bukanlah proses pembentukan, tetapi lebih pbersifat penyempurnaan.
Selama trimester ketiga ini, integrasi fungsi saraf otot berlangsung secara
pesat.
Pada aterm, susunan saraf sudah siap untuk menerima dan mengolah informasi. Fungsi korteks serebrum pada manusia relatif imatur dibandingkan dengan yang ditemukan pada spesies mamalia lainnya. Mielinisasi sempurna jalur motorik yang panjang terjadi setelah lahir, sehingga gerakan halus jari tangan, misalnya, belum tampak sampai beberapa bulan setelah lahir.
Pada aterm, susunan saraf sudah siap untuk menerima dan mengolah informasi. Fungsi korteks serebrum pada manusia relatif imatur dibandingkan dengan yang ditemukan pada spesies mamalia lainnya. Mielinisasi sempurna jalur motorik yang panjang terjadi setelah lahir, sehingga gerakan halus jari tangan, misalnya, belum tampak sampai beberapa bulan setelah lahir.
C.
Perkembangan Saraf Janin Ekstra
Uterus
Setelah lahir, susunan saraf
mengalami perkembangan pesat sebagai respons terhadap peningkatan input
sensorik. Refleks mungkin sedikit tertekan pada 24 jam pertama, terutama apabila
terjadi penyaluran transplasenta analgesia narkotik, tetapi kemudian beberapa
refleks mulai tampak. Pada kasus asfiksia berat, skor Apgar yang rendah atau
kerusakan saraf, refleks tertekan atau mungkin memerlukan waktu lebih lama
untuk muncul.
Refleks menggenggam atau refleks Moro digunakan untuk menilai kemampuan refleks bayi baru lahir.
Refleks menggenggam atau refleks Moro digunakan untuk menilai kemampuan refleks bayi baru lahir.
1. Bayi juga memperlihatkan genggaman
palmar yang kuat dan gerakan melangkah ritmik. Banyak refleks yang terdapat
pada neonatus akan menghilang kecuali apabila terjadi proses patologis, yaitu
refleks tersebut muncul pada masa dewasa.
2. Bayi memperlihatkan kesadaran umum
akan keadaan di sekitarnya dan bereaksi terhadap suara dan cahaya.
3. Bayi lahir dengan jalur sensorik
yang aktif.
4. Penelitian membuktikan bahwa
neonatus dapat mengenali bau ASI. Mereka dapat membedakan rasa dan tampaknya
lebih menyukai rasa manis.
5. Walaupun bayi sudah dapat melihat
pada saat lahir, terjadi perkembangan pesat kemampuan visual dalarn 6 bulan
pertama.
6. Neonatus memperlihatkan ketajaman penglihatan
yang terbatas tetapi tampaknya berfokus pada jarak 20 cm. Sejak lahir, bayi
dapat membedakan antara kontras dan kontur serta dapat mengikuti gerakan.
7. Neonatus mampu mendengar dan
membedakan suara, terutama yang berfrekuensi rendah sampai sedang. Penelitian
membuktikan bahwa neonatus dapat mengenal suara ibu mereka dan lebih menyukai
intonasi ritmik mengalun seperti menyanyi (DeCasper & Fifer, 1980) Neonatus
terbuai oleh suara ritmik bernapas, denyut jantung, dan peristaltik usus, yang
mereka dengar, misalnya, selagi digendong.
8. Bayi tampak terfokus pada rangsang
visual dan tampaknya mengolah informasi sensorik.
9. Pada keadaan terjaga aktif,
kecepatan pernapasan meningkat den ireguler.
10. Terjadi perubahan warna kulit,
banyak aktivitas, dan bayi memperlihatkan peningkatan kepekaan terhadap
rangsangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar